Lahan Gambut Jangan Dibikin Ribut

(0 votes)

Sudah terbukti berbagai penelitian bahwa lahan gambut bisa bermanfaat jika dikelola dengan baik, termasuk untuk lahan pertanian diantaranya kelapa Sawit.

Ketua Himpunan Gambut Indonesia (HGI), Supiandi Sabiham mempertanyakan kepada Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang didanai oleh asing yang selalu mempeributkan lahan gambut untuk kelapa sawit di Indonesia. Padahal lahan gambut yang digunakan untuk lahan perkebunan kelapa sawit sangat kecil.

Terbukti, berdasarkan data Balai besar sumber daya laha pertanian (BBSDLP), tahun 2013 bahwa dari 14,9 juta ha lahan gambut di Indonesia hanya 2,2 juta ha yang digunakan untuk usaha pertanian dan perkebunan. Sedangkan sisanya sebanyak 4,4 juta ha dikategoriksn sebagai lahan gambut terfdegradasi atau semak belukar dan sisanya lagi sebanyak 8,3 juta ha adalah hutan, itu termasuk 1,6 jt ha hutan tanaman industri (HTI).

“Bahkan di Jerman dan Finlandia pun lahan gambut dipergunakan sebaik-baiknya. Tapi mengapa lahan gambut di Indonesia selalu dibuat rebut. Padahal tanaman padi pun ada yang ditanam di lahan gambut. Artinya lahan gambut pun sebenarnya bisa untuk pertanian,” tegas Supiandi dalam Seminar Nasional ISPO bertema “Industri Minyak Sawit Indopnesia Dalam Isu Lingkungan, Sosial dan Ekonomi Global” oleh perkebunannews di Jakarta

Sehingga, menurut Supiandi yang juga Guru Besar IPB, pada dasarnya lahan gambut bisa lebih bermanfaat termasuk untuk lahan pertanian asalkan sesuai good agriculture practices (GAP). Sebab di Malaysia pun pemerintahannya membolehkan untuk membuka lahan gambut untuk perkebunan kelapa sawit.

Selain itu di Indonesia pun sudah terbukti pada Kebun Ajamu (PTPN 4) di Sumatera Utara yang telah menggunakan lahan gambut bisa tetap lestari meskipun saat usianya sudah 60 tahun. Bahkan kebun sawit di Negeri Lama milik PT Socfindo yang saat ini usianya mencapai 80 tahun tetap berproduksi dengan yield 25 ton/ha/tahun.

“Jadi sifat air di lahan gambut itu pun sebenarnya fluktuatif. Sehingga air di lahan gambut bisa meninggi tapi terkadang menurun. Maka dengan kondisi tersebut ada sebagian tanaman yang memang bisa digunakan di lahan gambut. Tapi dengan catatan tetap harus menggunakan pola water managemen (pengelolaan air),” ucap Supiandi.

Adapun caranya, Supiandi menjabarkan, yaitu dengan mengatur kondisi air di lahan yang akan diusahakan sehingga terbentuk suasana aerob “di bagian permukaan gambut. Lalu, mempertahankan tinggi muka air tanah (GWL) pada level yang masih dapat dijangkau perakaran tanaman. Kemudian, mempertahankan kelembaban gambut sehingga dapat menghambat proses dekomposisi dan kebakaran bahan gambutnya. Terakhir, yaitu dengan meningkatkan aktivitas mikroorganisme pada bagian permukaan gambut, terutama yang ada di sekitar perakaran tanaman.

“Sehinggga dengan begitu lahan gambut bisa menjadi lebih bermanfaat,” pungkas Supiandi. YIN

Sumber: http://bumn.go.id